10 Kesalahan Yang Sering Dilakukan Koki Pemula

Kesalahan yang sering dilakukan di dapur


Setiap koki baru atau koki rumahan pasti latihan di dapurnya sendiri sampai bisa dikatakan “bisa memasak.” Akhir-akhir ini, kita banyak menghabiskan waktu di rumah karena virus corona, dan tampaknya banyak yang menggunakan kesempatan ini untuk mulai mengasah kemampuannya di dapur.

Namun terlepas dari pengalaman masing-masing koki rumahan, ada beberapa kesalahan yang seringkali dilakukan di dapur. Memperbaiki teknik memasak maupun pengetahuan dapur pada umumnya akan menambah kemampuanmu memasak sekaligus memperluas wawasanmu mengenai keamanan makanan (food safety).


1. Mencuci daging 



Kredit gambar: @malak.klait98 

Hal ini mungkin terdengar aneh. Bukankah mencuci itu untuk menghilangkan bakteri? Faktanya, mencuci daging merah dan ayam justru dapat mengakibatkan menyebarnya bakteri ke wastafel serta area dapur lainnya – dan bahkan ke bajumu.

Memasak daging dengan baik dan benar akan membunuh kuman, dan kamu juga tidak usah khawatir terkena penyakit salmonella. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa daging tidak perlu dicuci, kecuali ada kotoran atau darah yang menempel. 

Akan tetapi, apabila dagingnya dibeli di pasar tradisional atau tempat yang kurang bersih, kamu boleh membersihkan kotoran atau darahnya. Hal paling penting adalah memastikan bahwa kamu tidak melakukannya dekat bahan makanan lain atau alat dapur untuk menghindari terjadi kontaminasi.


 2. Mencuci telur



Kredit gambar: @marinamustafa

Telur adalah bahan pangan yang juga tidak perlu dicuci. Makanan berbentuk bulat ini mengandung banyak protein, dan kulitnya memiliki lapisan anti-bakteri alami. Jika dicuci, kamu akan menghilangkan lapisan pelindung tersebut dan bagian dalam telurnya dapat terkontaminasi.

Kamu boleh mencuci telur jika ada kotoran yang menempel pada kulit, tetapi sebaiknya dilakukan sesaat sebelum memecahkannya. 

Topik lainnya yang sering diperdebatkan menyangkut penyimpanan telur di lemari es. Jawabannya tergantung pada asal telurnya, tetapi di Singapura (dan mungkin juga Indonesia), para ilmuwan mengatakan bahwa sebaiknya telur dimasukkan pendingin untuk menghambat pertumbuhan bakteri.


3. Menumis sayur-sayuran basah dengan minyak panas



Kredit gambar: Martin Carthae on Flickr  

Hal yang wajib dilakukan adalah mencuci sayur-sayuran. Namun demikian, sebaiknya sayuran yang telah dicuci tersebut tidak langsung dimasukkan dan masak di wajan panas, karena akan membuat tumis sayuran menjadi tidak renyah. Selain itu, memasukkan sayuran yang masih basah ke dalam minyak panas akan menimbulkan percikan yang membuat dapurmu kotor. 

Sebelum kamu mulai memainkan wajan a la Gordon Ramsay, biarkan sayur-sayurannya kering terlebih dahulu dengan bantuan penyaring. Untuk menghemat waktu, bisa juga menggunakan salad spinner


4. Membiarkan daging di luar terlalu lama


Mungkin kita teringat masa kecil ketika Ibu meminta untuk “mengeluarkan ayam” di pagi hari. Tetapi kita lupa dan panik ketika Ibu pulang. Sebenarnya “mengeluarkan” bukan berarti membiarkan seharian di dapur, karena daging apa pun bisa membusuk pada suhu kamar selama lebih dari dua jam.


Kredit gambar: @buttermysquash

Kalau kamu memang mau mencairkan daging untuk makan malam, pindahkan dagingnya dari freezer ke lemari es biasa di pagi hari. Atau kalau kamu tiba-tiba ingin masak dan dagingnya masih beku, kamu bisa masukkan dagingnya ke kantong Ziploc yang kemudian dimasukkan ke wadah yang penuh air. Dalam sejam dagingnya akan cair. Cara yang lebih singkat adalah memasukkan daging beku ke microwave


5. Membuat wajan terlalu penuh



Kredit gambar: @makranda 

Wajan yang terlalu penuh dengan daging, sayuran, ataupun adonan kue, tidak akan pernah menghasilkan santapan yang sesuai harapanmu. Memasak ayam yang banyak sekaligus mungkin akan menghemat waktu, tetapi cara ini akan berdampak buruk pada rasa dan tekstur kulit ayamnya.

Jika kamu masak ayam di wajan yang penuh, daging ayam tersebut tidak akan kering dan hasilnya akan seperti daging rebusan.

Sayuran yang dimasak dalam jumlah besar sekaligus juga akan menjadi terlalu lembek, dan matangnya tidak merata. Sebagaimana halnya manusia, makanan juga butuh ruang untuk bernapas.


6. Menggunakan satu jenis minyak untuk semua masakan



Kredit gambar: Alex Juel on Flickr 

Di dapur kita biasanya hanya tersedia satu jenis minyak, dan kita tidak terlalu memperdulikannya, kecuali jika kita memang sengaja memilihnya di supermarket.Padahal sebenarnya perbedaan jenis minyak bukan hanya sekedar “minyak zaitun membuat kita gendut” atau “minyak sayur dinilai sehat,” karena setiap jenis minyak memiliki kegunaannya masing-masing.

Minyak zaitun, minyak sayur, extra virgin oil, dan lainnya semua memiliki “titik asap” (smoke point) yang berbeda. Artinya, minyak yang berbeda akan mengeluarkan asap di suhu yang berbeda. Tentunya kita tidak bisa membahas semua jenis minyak, tetapi berikut adalah yang paling sering dipakai:

  • Minyak sayur memiliki titik asap tinggi, dan ideal untuk menggoreng atau memasak dengan api besar
  • Minyak zaitun memiliki titik asap sedang, dan paling cocok untuk pemakaian sehari-hari
  • Extra virgin oil memiliki titik asap rendah dan rasa yang khas, tetapi sering rusak karena digunakan untuk memasak dengan api besar

7. Menggunakan talenan yang sama untuk segala jenis bahan makanan



Kredit gambar: Pixabay

Mentimun bisa terkontaminasi kalau kamu memotongnya di talenan yang kamu pernah gunakan untuk memotong daging ayam mentah. Sebaiknya kamu menyimpan dua talenan di dapur, satu untuk makanan mentah dan satu untuk makanan yang sudah masak atau ready to eat seperti salad. 

“Tapi kan bisa dicuci dan digunakan lagi!” Kamu pasti terkejut dengan betapa banyaknya bakteri yang masih menempel tersembunyi pada talenan. Lebih baik sedia payung sebelum hujan.


8. Memasak daging dingin langsung dari lemari es



Kredit gambar: RitaE/Pixabay

Daging yang dimasak ketika masih dingin akan sulit matang secara merata. Oleh karena itu, sebaiknya daging tersebut dikeluarkan dari lemari es dan dibiarkan terlebih dulu sekitar 15-20 menit sebelum memasaknya.


 9. Jarang mengasah pisau



Kredit gambar: Wikimedia Commons

Pisau tumpul sebenarnya lebih berbahaya daripada yang tajam, karena saat memotong makanan atau benda lainnya memerlukan tekanan lebih besar, yang menambah kemungkinan cedera.


Kredit gambar: Billy Tran

Pengasah pisau mungkin terkesan mewah, tetapi alat ini sebenarnya sangat penting. Memiliki pengasah yang sederhana sudah cukup. Kamu bahkan bisa mengasah pisau dengan menggunakan bagian bawah mangkuk atau mug.

Menyimpan koleksi pisaumu di laci terpisah atau rak magnet juga penting agar tetap tajam.


10. Jarang mencuci spons atau kain lap 


Bayangkan ada berapa banyak bakteri yang mengumpul di spons dan kain lap kamu. Kita mungkin lupa untuk sering mencucinya karena dua benda tersebut kita gunakan untuk membersihkan benda-benda lain.

Untuk membasmi kuman yang ada di spons, kamu bisa merebusnya selama 5 menit atau membiarkannya di microwave selama 2 menit. Rajin-rajinlah mencuci kain lap. Kalau kainnya sudah terlalu lama, waktunya untuk beli yang baru.


Kesalahan yang sering dilakukan di dapur


Kalau kamu merasa sering melakukan kesalahan-kesalahan di atas, sekaranglah waktunya untuk memperbaikinya. Semakin sering berlatih, kemampuan kamu dalam menyiapkan makanan secara aman dan memasak akan semakin baik.

Baca artikel lainnya: 


Kredit gambar sampul: @malak.klait98 dan @makranda


Artikel asli yang dalam Bahasa Inggris diterbitkan oleh The Smart Local Singapore dan ditulis oleh Billy Tran.

Dwiputri P.:
Related Post